Rabu, 05 Juni 2013

Jeparadise (bag 5)

Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 3000,- kami pun masuk ke dalam kompleks pariwisata yang lokasinya sangat dekat dengan pusat kota. Sambil menunggu hujan reda, kami beristirahat sejenak di dalam Mesjid yang kemarin sempat kita singgahi di hari ke-dua.
            Sekitar pukul 16.25 WIB hujan pun mereda, meskipun masih menyisakan gerimis kecil namun tidak menyurutkan semangat kita (lebay) untuk menyusuri tempat wisata yang di dalamnya masih  terdapat perkampungan warga ini. Tujuan pertama kita adalah “Kura-Kura Ocean Park”. Tempat pengamatan ikan, semacam  Sea World ini sebenarnya baru dibangun beberapa tahun yang lalu, dengan tiket masuk sebesar Rp 12.500,- kita bisa menjelajahi bangunan berbentuk penyu (tapi kenapa namanya Kura-Kura Ocean Park ya?) tersebut sepuasnya .
            Bangunan berlantai dua ini memiliki dua bagian di dalamnya. Bagian pertama di lantai dasar, terdapat akuarium kecil dan besar yang mengelilingi akuarium raksasa di tengahnya. Sementara di dekat pintu masuk terdapat kolam besar yang berisi penyu (mirip kolam sentuh di Sea Worl). Di lantai atas bangunan, hanya terdapat beberapa jenis permainan kecerdasan untuk anak-anak kecil, mungkin ini playground untuk anak-anak yang bosan melihat ikan. Dari sini, bisa terlihat bagian atas akuarium raksasa yang menjadi pusat bangunan .
          
  Karena kebetulan kita datang terlampau sore, maka tidak banyak waktu untuk menikmati seluruh tempat di dalam bangunan tersebut. Sebenarnya bangunannya tidak terlalu luas, bahkan terlampau kecil untuk tempat pengamatan ikan. Mungkin karena jumlah wisatawan Pantai Kartini tidak terlalu banyak, maka bangunannya pun dibuat minimalis (ngarang bebas).
            Dari Kura-Kura Ocean Park, Kita pun beranjak ke bagian timur pantai. Di sini terdapat lapak-lapak pedagang yang sudah tutup, kemudian terdapat balai/ gazibu di tengah-tengah lapak  yang berfungsi sebagai tempat para pengunjung untuk duduk-duduk sambil menikmati suasana pantai dengan semilir angin sepoi-sepoinya sembari menyantap berbagai jenis jajanan. Karena gak ada pedagang yang masih buka, kitapun cuma duduk-duduk di kursi yang banyak berjejer di bibir jalan paving (Pantai Kartini tidak memiliki area berpasir, lantaran sebagian besar sudah di buat track untuk bersepeda ataupun jalan dan lari).
            Karena hari sudah semakin sore, kamipun pulang meninggalkan tempat wisata andalan Kabupaten Jepara tersebut dengan berjalan kaki (hadeeeeeeh jalan kaki lagi). Karena suasana jalan yang lengang serta minimnya polusi membuat perjalanan menuju alun-alun menjadi nyaman. Udara yang segar meskipun udah sore semakin menambah nikmatnya suasana sore di bumi Kartini.

            Kurang lebih 2 Km berjalan kaki dari Pantai Kartini, akhirnya sampailah kita di alun-alun Jepara. Karena udah masuk waktu Maghrib juga, kita pun mampir dulu ke Mesjid yang ada di sebelah Kompleks Museum Kartini. Selepas Maghrib, kita pun beranjak menyusuri trotoar (di Jepara trotoarnya rapiiiiiiiiih dan layak pakai, jadi sangat nyaman digunakan bagi pejalan kaki) menuju ke pusat jajanan Jepara.
            Karena masih sore, sekitar pukul 18.30 WIB kondisi pusat jajanannya pun belum terlalu ramai pembeli, jadi sedikit lebih leluasa milih tempat makannya. Karena yang dijual bukan makanan khas Jepara, bingung juga mau pilih yang mana, karena sebagian besar makanan yang dijumpai gak beda jauh sama yang ada di Jakarta.
            Sempet muter-muter sebentar, akhirnya lima orang dari rombongan memutuskan untuk makan sate dan sisanya termasuk gue milih makan mie godok ajalah. Kebetulan yang jual masih saudaraan sama Pakde nya temen gue, jadi dijamin rasanya gak kalah enak dari yang pernah gue coba sebelumnya.
            Bagi gue, ini kali pertama gue nyoba mie godok/ mie rebus yang dijual gerobakan (lebih tepatnya pertama kali sejak belasan tahun lamanya). Setelah kenyang makan di pusat jajanan kita pun memutuskan untuk .. untuk kemana ya??? gue lupa hehehehe.. wajar lah udah lama juga nih kejadiannya, baru gue tulis sekarang.
            Oh iya.. selepas makan malem, kita berdelapan jalan kaki ke alun-alun, sembari menikmati suasana malam Jepara. Secara malam itu malam terakhir kita di Jepara, jadinya kita pengen menikmati suasana alun-alun kota kayak malem kedua kita di sana. Tapi sayangnya malam itu kondisi alun-alun sepi melompong, cuma ada beberapa anak gaul Jepara yang nongkrong di depan Museum Kartini. Jadi kitapun cuma sekedar duduk-duduk di bangku pot yang ada di pinggir alun-alun.
            Karena gak ada yang bisa dinikmati di sana, gak sampe 20 menit kitapun melipir pulang. Waktu itu kurang lebih pukul 20.30/21.00 WIB, tapi kondisi jalan udah lengang dan udah sepi banget. Toko-toko di SCJ pun udah banyak yang tutup, emang begini kali ya susana kota kecil, tapi justru suasana beginilah yang bikin betah, yang gak akan bisa ditemuin di Jakarta (jam 9 malem aja masih kena macet di jalan). Tadinya sebelum pulang sempet mau ngelaundry baju kotor 3 hari sebelumnya yang udah numpuk di tas. Tapi karena satu dan lain hal, kita gak jadi untuk nyuci baju di sana.
            Kamis, 21 Februari 2013. Selepas mandi dan sarapan kitapun berbenah mengemas barang bawaan, setelah pamit dengan yang punya rumah sambil mengucapkan terima kasih kitapun beranjak menuju Pul travel yang letaknya sangat amat super duper deket dari rumah. Sayangnya satu temen gue gak bisa ikut, baru bisa pulang hari sabtu secara ibunya nyusul ke rumah Budenya (tempat kita nginep) dua hari sebelumnya, jadinya dia pulang bareng sang nyokap.
            Pukul 11.00 WIB mobil travel mulai beranjak meninggalkan Jepara, menuju Semarang (oh iya, cuaca hari itu entah kenapa cerah banget, seakan-akan gembira melihat kita yang mau balik ke Jakarta ckckc). Meskipun kereta yang akan kita tumpangi baru berangkat pukul 19.00 WIB tapi ya namanya orang “udik” maunya muter-muter dulu di sana, meskipun pada kenyataannya gak sempet muter-muter. Karena selain gak tau jalan, kondisi jalan kota Semarang yang gak jauh beda sama Jakarta membuat kita urung untuk melaksanakan niat kita sebelumnya.
             Pukul 19.15 WIB kereta Tawang Jaya yang kita tumpangi pun beranjak meninggalkan ibu kota Jawa Tengah yang seumur hidup baru 2 kali gue datengin. Pertama, waktu hari senin pas baru sampe, kedua, ya pas pulangnya itu hehehehe.. mudah-mudahan masih bisa dateng ke sana lagi, pengen banget sih keliling Semarang. Tapi sayangnya gak punya kawan yang bisa diajak jalan-jalan ke sana, yang bener-bener tau seluk beluk kota tersebut. Mungkin ada salah satu dari kalian yang mau temenin gue jalan-jalan di kota Semarang???

TAMAT

Selasa, 14 Mei 2013

Jeparadise (bag 4)



Dari Pantai Kartini kita bergeser sedikit ke pusat kota, tepatnya di pusat jajanan yang ada di belakang Jepara Shopping Centre (JSC). Tempatnya bersih dan tertata rapih, varian makanannya pun beragam, mulai dari makanan berat sampai ringan ada semua. Sempet bingung mau makan apa akhirnya kita semua memutuskan untuk nyobain Es Gempol dulu, rasanya sih gak jauh beda dengan es campur tapi minim isi, cuma ada serutan es sama bola-bola dari tepung beras. 


            Dari es gempol kita bergeser ke tenda seberang buat nyari makanan berat. Setelah memilih dan memilah akhirnya diputuskanlah untuk makan pecel ayam (yang rasa dan harganya gak jauh beda sama yang di Jakarta). Sehabis makan malam, lanjutlah kita jalan ke alun-alun (jalan kaki, soalnya mobil sewaannya di parkir di deket alun-alun sama yang bawa). Ketika udah mau naik mobil, eh yang lain pada pengen naik becak neon dan alhasil keluarlah duit buat naik becak neon tersebut. Setelah 3 kali muter+bongkar pasang penggenjot, baliklah kita ke rumah untuk istirahat sembari mempersiapkan tenaga buat jalan-jalan besok pagi.

            Hari ketiga di Jepara, Rabu 20 Februari 2013. Bangung siaaaaaang... halah padahal masih ada sisa waktu buat sewa mobil sampe jam 11, dan akhirnya hangus begitu aja hiks hiks hiks hiks.. setelah mandi dan sarapan, beranjaklah kita sambil jalan kaki lagi ke Destinasi wisata terdekat yakni Museum Kartini.

            *Museum Kartini didirikan pada 30 Maret 1975, sementara peresmiannya dilakukan pada 21 April 1977. Museum ini menyimpan benda-benda peninggalan R.A. Kartini dan kakaknya, RMP Sosrokartono serta benda-benda kuno yang ditemukan di wilayah Kabupaten Jepara.

            Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp2000,- per orang, kita berdelapan pun bisa menelusuri seluruh ruangan di museum yang berada di sebelah alun2 Jepara tersebut. Di ruangan pertama yang kita masuki terdapat benda2 seperti lukisan, foto-foto, serta replika sudut-sudut ruangan dari kediaman R.A. Kartini, seperti ruang tamu, ruang meditasi RMP Sosrokartono. Kesan seram terasa saat berada di bagian belakang ruangan yang mana terdapat lukisan-lukisan besar yang menampakkan keluarga dan kerabat dari R.A. Kartini.


            Beralih ke ruangan selanjutnya, yang mana pada ruangan tersebut berisi benda-benda berupa keramik serta gong. Selain itu dibagian lain ruangan kedua ini juga terdapat fosil dari ikan raksasa Joko Tuwo, ikan berjenis Paus Gajah itu ditemukan di perairan Karimun Jawa. Sayangnya sebagian besar benda-benda kuno yang disimpan di ruangan ini terlihat kurang terawat, meskipun di waktu yang sama terdapat seorang petugas yang sedang membersihkan koleksi keramik.

           
 Kesan seram juga masih meliputi ruangan kedua, tidak lain karena terdapat beberapa gong di sudut ruangan serta ada juga batu berbentuk lesung dengan dihiasi ukiran yang kelihatannya memang udah sangat tua. Gak kuat lama-lama karena pengap juga di dalam, akhirnya kita beralih ke ruangan berikutnya, dimana pada ruangan tersebut terdapat beberapa benda-benda tradisional yang biasa digunakan oleh masyarakat Jepara dalam beraktifitas sehari-hari, seperti bubu, jala, dan kereta kuda untuk menaruh hasil tangkapan sehabis menjala ikan.

            Di dalam ruangan ketiga ini terdapat lukisan dinding yang terbuat dari bebatuan sungai yang disusun menyerupai wajah R.A. Kartini. Beralih ke sekat sebelah namun masih ada di ruangan yang sama, kali ini benda-benda yang di pajang merupakan hasil kerajinan ukiran masyarakat Jepara. Tidak ada kesan seram, lantaran benda-benda yang dipajang masih terbilang baru.

            Setelah puas berkeliling, kami pun beranjak meninggalkan Museum menuju tempat wisata berikutnya, Pantai Bandengan. Tapi karena kali ini gak naik mobil, kita pun berencana menggunakan angkutan umum untuk mencapai Pantai Bandengan. Setelah bertanya-tanya kepada penjaga Museum, kami pun berjalan meninggalkan Museum menuju Pusat Jajanan yang letaknya tidak jauh dari Museum R.A. Kartini.

            Ba’da Zuhur, kami pun beranjak ke Pantai Bandengan dengan menggunakan angkutan umum yang kami sewa seharga Rp50000,- sampai puas !!! Menurut sang supir, angkot yang ke arah Pantai Bandengan memang sudah berhenti beroperasi sejak pukul 11.30 WIB. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 15 menit, setelah membeli tiket seharga Rp3000,- dan parkir angkot, kita pun mulai melipir ke pantai.

            Suasana pantai yang ditangkap pada saat itu adalah sejuk dan sunyi, lantaran memang tidak terlalu banyak pengunjung bahkan lebih tepatnya seperti tidak ada pengunjung. Namun, sampah yang berserakan di bibir pantai cukup mengurangi keindahan pantai berpasir putih tersebut. Buruknya cuaca juga meyebabkan air laut yang biasanya berwarna kebiruan (setidaknya begitu menurut beberapa tulisan yang pernah gue baca) berubah menjadi keruh.

            Gak terlalu banyak kegiatan yang bisa dilakukan di pinggir pantai, selain main air, mencari cangkang kerang, dan main pasir. Tapi sepinya pantai membuat suasana menjadi lebih privat lantaran memang sangat jarang pengunjung yang datang pada saat itu (atau mungkin hampir setiap hari). Menurut informasi yang gue dapat dari internet, kita bisa pergi ke Pulau Panjang dari Pantai Bandengan dengan menggunakan perahu (perahu ya, bukan kapal). Tapi karena jarak yang lebih jauh, maka wisatawan lebih memilih berangkat dari Pantai Kartini yang secara geografis memang lebih dekat dengan Pulau Panjang (kalau gak percaya cek google).

            Selepas basah dan lengket dengan air laut (cuma sebatas kaki sih) kita pun beranjak meninggalkan Pantai Bandengan, apalagi awan mendung mulai menutupi sebagian langit pantai. Daripada kehujanan mending langsung capcus ajalah ke tempat wisata lain. Baru sampai di dalam angkot sewaan, tiba-tiba hujan langsung turun dengan sangat deras, untungnya kita semua udah ada di dalem hehehe. Setelah itu berangkatlah kita ke tempat wisata selanjutnya, yang pada saat itu sebenarnya belum diputuskan akan kemana.

            Setelah diskusi sebentar di dalam angkot, akhirnya diambilah keputusan untuk kembali mengunjungi Pantai Kartini. Kurang lebih 15 menit di jalan, akhirnya sampailah kita di tempat wisata andalan kota Jepara tersebut. Hujan masih mengguyur dengan deras, tapi karena udah sampe dan gak dilanjutin lagi sewa angkotnya, kitapun turun di depan pintu gerbang Pantai Kartini.


Bersambung...

           

           

           

           

           


Jumat, 10 Mei 2013

Di Balik Wawancara Eksklusif dengan Lucia Saharui



Akhirnya, setelah sekian lama mengidolai sosok Lucia Saharui (terhitung sejak 2008) baru kali ini dapet kesempatan bertemu dan ngobrol bareng sama orangnya. Mungkin buat sebagian orang sepertinya rada aneh ya mengidolai seorang penyiar berita, walaupun pada saat ini kepopuleran penyiar berita atau sebutan kerennya News Anchor, tidak jauh berbeda dengan selebritis atau artis.

Pertama kali gue tau dia, lewat program Sport Corner yang udah “almarhum” di Metro TV. Semenjak itu gue mulai sering nungguin penampilannya, meskipun harus bangun pagi-pagi banget. Alasan utama gue bisa nge fans sama dia sih gak jauh-jauh dari fisik lah, kemudian setelah itu gue menangkap hal lain dari sosok Lucia Saharui yakni suaranya dan kekhasannya dia dalam membawakan program.

Menurut gue, dia punya karakter yang unik sehingga mampu membuat suatu program menjadi lebih enak untuk dinikmati, meskipun masih sering melakukan beberapa kesalahan baik itu pelafalan maupun ketidak tenangan pada saat terjadi kesalahan teknis (teleprompter yang ngadat dsb).

Meskipun begitu, Lucia Saharui punya kelebihan yang tidak dipunyai News Anchor Metro TV kebanyakan. Dia bisa beradaptasi di beberapa program berbeda, mulai dari Sport, Hard News, Soft News, Talk Show, Traveling, sampai berita Ekonomi. Cuma satu jenis program yang belum pernah dibawakan olehnya, yakni Metro Xinwen hiihihiihiihii.

Kembali ke soal “ketemuan”. Sebenarnya gue udah mulai bekomunikasi dengan Lucia sejak November 2011 via Media Social, ketika itu Wideshot baru tayang. Semenjak dari tanya-tanya seputar program barunya itu, kemudian tanya-tanya soal pengalamannya sebagai jurnalis dan selama itu message gue beberapa kali dibales olehnya.

Setelah beberapa kali berbalas message, kemudian muncul rasa jenuh. Yaiyalah, balesannya lama banget soalnya, jadi berasa kirim-kiriman surat kayak jaman dulu hehehhe.. Setelah bosan nungguin message balasan yang suka lama (maklum, dia emang sibuk banget. Apalagi sebagai jurnalis yang jam kerja nya di luar kebiasaan profesi lain), akhirnya muncullah ide nekat hasil dari lamunan di depan TV (di depan TV aja gue ngelamun), ide tersebut adalah mewawancarai Lucia Saharui secara eksklusif.

Kebetulan gue ikut Pers Mahasiswa di kampus dan kebetulan lagi nih LPM gue lagi dalam proses pengerjaan tabloid. Setelah melalui negosiasi yang singkat, akhirnya disetujuilah ide gue tersebut sama bu Pimred (Pimpinan redaksi) dan mulai hari selasa 16 April 2013 message pertama seputar pengajuan permohonan wawancara pun dilayangkan ke akun yang bersangkutan.

Beberapa hari setelah pengajuan wawancara dilayangkan, masih belum ada tanggapan. Kemudian gue coba inisiatif untuk mengirim message lanjutan yang berisi penjelasan lebih detil tentang maksud dan tujuan dari wawancara tersebut. Selepas 2 jam dari message gue, masuklah balasan dari yang bersangkutan yang ternyata cukup positif dalam menanggapi message gue.

Setelah beberapa kali berbalas message, akhirnya ditentukan lah waktu wawancaranya. Kamis, 25 April 2013 jam 11 siang. Girang bukan main, bukan hanya buat gue tapi juga LPM gue hihiihhi. Tapi ternyata kesenangan gue sempet terganggu dengan status gue yang secara struktural udah gak diprioritaskan lagi untuk melakukan tugas peliputan. Sempet drop, tapi gue coba bujuk dan ternyata kebetulan tidak hanya datang satu-dua kali saja. Waktu wawancara yang udah disepakati ternyata bentrok dengan jam UTS Badan Pengurus Harian (BPH). Alhasil, bu Pimred pun mempercayakan tugas penting ini (lebay) kepada gue, dengan ditemani salah satu BPH yang kebetulan lagi gak ada UTS hari itu.

Sehari sebelum wawancara, sempat diskusi dengan Pimred dan rekan liputan gue soal wawancara besok. Setelah sepertinya semua udah beres dan tinggal eksekusi, ternyata masih ada aja kendala lain yang datang menghampiri. Jadwal UTS gue ternyata kamis jam 1 siang !!!! alamak, sempet stres gue mikirinnya.. tapi untungnya dengan pemikiran yang matang gue tetep nekat melanjutkan wawancara besok.

Hari H !!!!!! berangkat dari rumah jam 9 pagi, buat ngehindarin macet dan juga biar bisa dateng lebih awal (dari Bekasi soalnya coy). Soalnya kalau ada janji wawancara usahain jangan sampe dateng telat (janji yang lain juga sih harusnya). Ternyata kalau niat baik itu banyak cobaannya ya, setelah temen gue izin dateng terlambat setengah jam karena ada urusan, eh di jalan pake acara “kesasar” (kesasarnya tanda kutip ye, soalnya kita gak beneran nyasar, tapi cuma lupa jalan. Padahal jalannya udah bener, tapi kitanya aja yang lagi ngaco).

Setelah berjuang menembus padatnya lalu lintas Jakarta, akhirnya sampai juga di Metro TV jam 11 kurang. Stay dulu di masjid yang baru di resmiin pas Idul Adha tahun kemarin sama Surya Paloh, sambil cuci muka, minum, makan permen (biar nafas wangi) sama baca-baca TOR (Term of Reference). Setelah dirasa cukup siap dan waktu udah mepet juga, kita pun beranjak ke Lobby Grand Studio Metro TV yang letaknya ada di ujuuuuuuung.

“Hosh..hosh..hosh..” begitulah suara nafas kita sewaktu jalan dari Mesjid menuju Grand Studio, lumayan capek coy maklum baru istirahat kurang dari 5 menit udah jalan lagi kita. Begitu sampai di depan Lobby, gue dan rekan liputan langsung “dihadang” sama security. Sambil keheranan liat gue yang keringetan kayak abis lari marathon dia pun bertanya dan kemudian terjadilah dialog yang agak aneh seperti di bawah ini:

Security: ”mau ketemu siapa mas?”

Gue: ”hosh.. hosh.. mau ketemu Lucia Saharui pak.. hosh.. huuft”

 Security: “Siapa??? (kemudian menyebutkan nama yang sangat jauh kedengarannya dengan nama Lucia Saharui)

Gue: “Lucia Saharui, kita ada janji wawancara hosh.. hosh..”

 Security :”Sebentar ya”

kemudian dia pun masuk ke dalam Lobby, sambil celingak celinguk mencari-cari orang yang di maksud. Kemudian dia dateng lagi ke kita sambil berkata

Security: “yang mana sih orangnya???”

Jegeeerrrr!!!!! Parah banget nih orang ckckc

Gue:”.........”

Security:”cari sendiri aja deh mas, tunggu di dalem aja dulu”

Gue:”oke deh” (dengan perasaan bete dan bingung. Bete, karena bukan dari tadi disuruh masuk. Bingung, ko’ dia bisa gak tau sama Lucia Saharui ya? ckckckc)

            Setelah masuk ke dalam Lobby, kita langsung di sambut dengan hembusan angin sejuk dari AC hmmm.. ademmmm hehehe. Terlihat banyak kru lalu lalang, serta kabel dimana-mana, ternyata mereka baru selesai on air program 8-11 show. Kemudian gue pun melipir ke sayap kanan Lobby, buat duduk dan beristirahat sejenak setelah capek dan kepanasan selama di jalan.

            Sambil buka-buka TOR, mata gue tetep awas mencari sosok Lucia yang memang baru selesai siaran di 8-11 show untuk sesi Yourmoney. Tidak berapa lama lewatlah dia ke arah eskalator menemui beberapa orang kru (sempat liat ke arah gue, tapi karena gak engeh itu gue ya langsung berlalu aja gitu dianya), setelah itu dia balik lagi menuju ke luar Lobby. Ternyata dia baru saja mengantar narasumbernya, Konsultan/perencana keuangan independent Ligwina Hananto ke dalam mobil jemputan.

            Setelah mengantar pulang sang narasumber, kembalilah dia ke dalam Lobby. Kali ini terlihat dia sedang berbincang dengan beberapa kru di bawah patung raksasa yang ada di Lobby Grand. Kemudian dia pun berlalu naik ke eskalator menuju lantai dua. Melihat hal tersebut gue langsung bingung. Nahlo!!! Ko’ ke atas, karena memang waktu sudah menunjukkan jam 11 tepat, gue pun berinisiatif untuk mengirim message dengan maksud memberitahukan kehadiran kami di Lobby. Kurang lebih begini percakapan di message tersebut:

Gue:”mbak saya uda di Lobby”

Tidak lama kemudian, masuk message balasan darinya yang menyatakan akan segera menemui kita di Lobby.

Lucia:”di Lobby Grand Studio ya, saya tunggu di situ sekarang”

            Setelah membaca message darinya gue pun melihat ke arah eskalator dan tidak lama muncullah Lucia dengan mengenakan pakaian yang sama pada saat siaran, hanya saja alas kaki nya sudah berganti jadi sepatu teplek. Kemudian Lucia pun mendatangi kami sambil tersenyum dan menyapa kami dengan ramah.

Lucia:”Hilman ya?”

Gue:”iya mbak. Apa kabar?”

Lucia:”baik, kebetulan ya nunggunya di sini hehhe”

Gue:”iya mbak hehehe”

            Kemudian kami pun mulai pindah ke tempat yang lebih nyaman, untuk melakukan sesi wawancara. Kebetulan waktu ketemu penampilan gue emang lagi gak banget tuh, agak lusuh karena baru banget sampe dan belum sempet ngaca, jadinya apa adanya banget. Tapi tetep gak menyurutkan semangat gue untuk mewawancarai News Anchor favorit gue itu.

            Wawancara berlangsung sekitar 19 menit, termasuk singkat untuk 20 pertanyaan. Lantaran Lucia memang menjawab pertanyaan dengan lugas sehingga tidak butuh waktu banyak untuk beralih ke pertanyaan selanjutnya. Secara keseluruhan wawancaranya menurut gue berlangsung sukses, meskipun kurang puas karena gak bisa fokus antara wawancara dengan rasa senang bertemu idola. Lucia pun cukup ramah dan humoris dengan celetukan-celetukannya menanggapi pertanyaan yang gue ajukan, tapi justru itulah yang membuat suasana menjadi cair.

            Selepas wawancara, kami pun gak langsung beranjak pulang. Secara emang kita baru sampe kurang lebih 45 menit yang lalu. Akhirnya sembari nunggu waktu persiapan dia untuk siaran, kami pun ngobrol-ngobrol seputar pengalamannya dia sebagai jurnalis kemudian juga seputar program-program yang pernah dibawakan olehnya (ditengah obrolan, tiba-tiba Rory Ashari menghampiri sambil membawakan earphones Lucia yang ketinggalan di set 8-11 show.  Dibelakangnya menyusul Marissa Anita yang langsung melipir ke eskalator. *Marissa Anita kurus banget ternyata, Rory Ashari juga gak terlalu berisi kayaknya, tapi ko' badannya bagus ya?). Karena terlalu asik ngobrol, gue pun jadi lupa waktu. Tau-tau udah jam 11.57, alamak jadi gak enak sama Lucia nya lantaran udah terlalu lama menyita waktu. Akhirnya sesi wawancara + ngobrol pun di akhiri dengan sesi foto-foto, baik untuk keperluan tabloid maupun untuk pribadi alias foto bareng.



            Sempet mau nawarin jalan bareng ke Studio Wideshot, yang kebetulan letaknya dekat dengan parkiran yang jadi satu dengan kompleks Mesjid. Tapi dianya masih ada perlu dan masih ada barang yang ketinggalan di atas, akhirnya kita pun pamit dan segera meluncur pulang dengan hati PUAS.


Baca juga Lucia Saharui, News Anchor Serba Bisa





Minggu, 28 April 2013

Jeparadise (bag 3)


Hari kedua di Jepara, Selasa 19 Februari 2013. Setelah mandi dan sarapan, mulailah kita pergi jalan-jalan keliling Jepara. Kali ini kita naik mobil ya, bukan jalan kaki hehe.. mobilnya jenis mini bus (gue lupa merknya apa, antara xenia dan avanza lah). Satu mobil diisi 10 orang (supir+saudara temen+ kita berdeladapan) dan ibarat main bola kita duduk pake formasi 3-5-2 hehehe.
            Destinasi wisata (caelah sok iye nih yang nulis bahasanya) yang pertama kita kunjungi adalah Benteng Portugis, letaknya berada di Kecamatan Banyumanis, Kabupaten Jepara. Waktu tempuhnya kurang lebih satu jam naik mobil dari kota ya, jalannya cukup bikin perut agak mules, ditambah harus berbagi jalan sama truk-truk dengan muatan yang beragam, jadi kudu ekstra hati-hati + sabar.
            Setelah sampai di daerah Banyumanis, kita (gue sih sebenernya) dikejutkan (dorr !!!) oleh “penampakkan” (mungkin) rumah sakit yang cukup besar di tengah hutan dan perkampungan. Ko’ bisa ya ada (mungkin) rumah sakit di daerah kayak begitu? tapi ya... ambil sisi positifnya aja (emang ada sisi negatifnya man?), berarti warga sekitar gak perlu jauh-jauh ke kota kalau mau ke rumah sakit, apalagi rumah sakitnya itu kelihatannya udah layak banget.
            Setelah melalui jalan yang naik turun, melintir kanan melintir kiri, masuk kebun keluar kebun karet, akhirnya sampailah kita di tempat wisata Benteng Portugis. Pertama kali sampai sana, kita disambut dengan pemandangan yang indaaaaah (gak pake banget) lantaran benteng portugis letaknya berada di pinggir pantai yang berhadapan dengan pulau Mandalika (pulau kecil tak berpenduduk, hanya dihuni kalau gak salah oleh 3 orang petugas jaga).

            *Benteng Portugis sendiri di bangun oleh kerajaan Mataram pada tahun 1632. Tujuan didirikannya benteng tersebut yakni untuk memperkuat garis pertahanan laut kerajaan Mataram dari gempuran VOC, dengan mengandalkan bantuan armada laut Portugis.
             Sesudah beli tiket secara drive thru (padahal disana gak ada jenis layanan begini, tapi karena kita doang yang dateng kesitu jadilah petugasnya nyamperin sambil ngelayanin pembelian tiket hehehe) masuk lah kita ke salah satu objek wisata andalan Jepara itu dengan hati bingung, ya bingung.. karena memang gak ada pengunjung lain selain kita disitu.
            Setelah parkir mobil di sembarang tempat (gak ada tempat parkir di dalem, tempat parkir adanya di depan sebelum masuk gapura) kita celingak celinguk kayak anak itik merindukan induk alias bingung akut. Tentu aja bingung, soalnya bentengnya gak keliatan, di sana cuma ada 2 gazibu, warung, toilet (yang lebih mirip kamar ganti/pas tapi ada keran airnya), sama tempat bilas yang gak ada airnya.
            Dengan berbekal ingatan sebuah video di youtube (yang gue tonton) yang merekam suasana objek wisata Benteng Portugis, gue dengan penuh percaya diri mengarahkan rombongan ke arah jalan paving yang membentang diantara tebing dan bibir pantai yang berkarang (ehem bahasanya bagus kan?) meskipun gue gak tau itu ujungnya ke mana.

Kebetulan waktu itu cuaca lagi gak bagus, jadinya ya kita jalan harus hati-hati, karena ombaknya lagi gede-gedenya ditambah tiupan anging yang kencang. Sayangnya jalan pavingnya udah ada yang rusak dibeberapa bagian, jadi ya.. cukup mengurangi kenyamanan pejalan kaki. Lucunya disepanjang jalan terdapat rombongan kambing/ domba yang sedang digembala, baru kali itu gue liat orang ngembalain ternaknya di area pantai.
Sekitar 50 meter jalan kaki, ketemulah kita dengan tangga yang mengarah ke atas bukit dimana benteng tua yang dikenal sebagai benteng Portugis berada. Pegangan tangga yang udah rubuh lantaran tergerus akar tanaman yang tumbuh liar di pinggiran tangga ditambah dengan kondisi tangga yang curam cukup mempersulit “pendakian”, namun rasa penasaran alias kepo membuat kita semakin semangat untuk sampai ke atas bukit.

Sesampainya di atas... ko’ sepi ya? cuma ada satu gazibu besar dekat mulut tangga, dan 2 pos di bagian belakang benteng yang letaknya agak naik sedikit. Meskipun terkesan tidak terawat tetapi pemandangan di area benteng sendiri cukup eksotis, lumut liar yang tumbuh subur di sepanjang permukaan dinding benteng benar- benar mengingatkan gue sama lokasi air mancur abadi di film Pirates of the Carribean 4, tapi minus kabut ya.


Sayangnya kita gak bisa melihat pemandangan laut dari atas benteng lantaran pepohonan yang tumbuh subur dan liar menutupi area benteng tersebut. Tapi ya.. kita tetep puas ko’, puas foto2 maksudnya hehe. Setelah bosan di atas ditambah awan yang semakin mendung kita pun turun tapi lewat jalur berbeda, yang kali ini berupa jalan coran menurun.
Sampai di bawah kita istirahat dulu di gazibu sambil celingak celinguk nyari musholla,  lantaran emang kita belom sholat zhuhur. Setelah nyari2 ketemulah kita dengan musholla di area dekat pintu masuk 2 area benteng Portugis, tapi sayangnya tempat ini udah gak terawat, bahkan air untuk wudhu pun gak ada. Akhirnya balik maning kita ke laptop.. ke gazibu maksudnya.

Akhirnya diputuskanlah untuk sholat di gazibu tersebut secara bergantian, untung di dekat gazibu ada keran air (ketika wudhu gue sempet ngerasain airnya emang rada manis, mungkin karena itu daerah tersebut dinamakan Banyumanis). Setelah itu sholatlah (di jama’) kita bergantian di atas gazibu dengan efek latar alami yakni hembusan angin dan deburan ombak, dan rasanya sadaaaaaaap. Belom pernah gue sholat di tengah alam seperti itu, berasa lagi shooting buat azan maghrib hehehe.
Selepas sholat kemudian jajan bakso, beranjaklah kita ke kota mengejar waktu supaya gak kemaleman. Sesampai di kota belom terlalu sore, akhirnya dipustuskan untuk mampir ke pantai andalan Jepara, yakni Pantai Kartini. Sayang udah kita ke sananya udah kesorean, jadinya gak sempet masuk ke Kura-Kura Ocean Park. Tapi tetep gak menghilangkan semangat untuk jepret sana jepret sini.




Bersambung..


Jumat, 15 Maret 2013

Jeparadise (bag 2)


Setelah memakan waktu kurang lebih 2,5 jam perjalanan dari Semarang, akhirnya sampailah kami di Bumi Kartini, kota dengan kerajinan ukir yang kualitasnya diakui secara Internasional (saking terkenalnya, hak patennya sampai dipegang oleh orang asing..). Setibanya di Jepara, hujan langsung menyambut kedatangan kami. Cukup deras, sampai-sampai jarak pandang hanya sekitar 20 meter (kalo gak salah ya).
*Jepara dan Jakarta tidak terlalu berbeda dalam hal cuaca, terutama pada saat itu. Bahkan mungkin lebih ekstrim lantaran hujan turun hampir tiap hari dan tiap waktu tanpa bisa diprediksi. Langit yang selalu mendung disertai gerimis selalu mengguyur Kabupaten di Propinsi Jawa Tengah ini.
Akhirnya sampai juga di rumah saudara temen, letaknya gak terlalu jauh (bahkan deket) dari alun-alun Jepara (yang secara bentuk lebih menyerupai lapangan sepakbola, dengan posisi lebih tinggi dari jalan raya). Gak banyak yang bisa dikerjakan selepas tiba di tempat tujuan, selain dikarenakan hujan terus turun, juga karena faktor keletihan lantaran dari semalem belum sempet tidur. Satu-satunya kegiatan yang bisa dilakukan adalah tidur siang sampai puas.
Sore harinya, setelah hujan reda dan udah mandi serta rapih-rapih juga (selepas maghrib) kita pergi ke alun-alun, jalan kaki.. ya jalan kaki, karena emang letak (homestay)nya yang deket banget dari alun-alun, makanya kita jalan kaki.
Sampai di alun-alun, sepiiiiiiiii. Gak banyak aktifitas yang dilakukan di sana, ya mungkin karena habis hujan juga makanya orang-orang lebih memilih tinggal di rumah aja kali. Beberapa orang ada yang duduk-duduk di pinggiran alun-alun sambil menikmati taman kecil di sebelah alun-alun. Baru sempet duduk sebentar, hujan turun lagi. Untungnya ada tenda (entah buat apa) jadinya kita semua bisa neduh dulu di sana.
*Alun-alun Jepara, biasanya cukup ramai dikunjungi oleh warga setempat, baik anak muda maupun keluarga. Biasanya terdapat becak neon (seperti di Jogja) dengan bentuk dan ukuran beragam, yang bisa disewa oleh pengunjung yang mau berkeliling alun-alun.
Setelah hujan reda, kita jalan lagi ke Shopping Centre Jepara (SCJ). Tempatnya gak luas, bahkan terlalu kecil bila disebut sebagai shopping centre. Karena gak nemuin sesuatu yang spesial di sana, ditambah udah malam juga (baru jam 9 sih) jadinya banyak toko yang udah tutup. Kemudian lanjutlah kita jalan (masih jalan kaki) ke pusat jajanan Jepara (ngarang, soalnya gak tau nama resminya dan akhirnya dinamain sendiri sesuka idung gue wkwkw) letaknya ada di belakang SCJ, tempatnya ramai, aneka jajanan dari gorengan, makanan berat, sampai dessert pun ada di sini. Tapi karena udah disuruh makan di warung nasgor nya saudara temen gue (saudaranya temen jualan nasi goreng di deket alun-alun, udah punya cabang juga katanya) jadinya gak jajan deh (sekalian biar hemat juga).
Hari pertama pun ditutup dengan acara makan di warung nasgor Pak Min (Pakde nya temen), pengennya sih nambah, tapi malu dan tau diri juga, soalnya kita makan gratisan hehehe..

Bersambung..

Kamis, 14 Maret 2013

Jeparadise..


    Liburan/Rekreasi merupakan salah satu kebutuhan Sekunder yang perlu dipenuhi oleh manusia, tujuannya yakni untuk menyegarkan kembali pikiran maupun fisik yang lelah setelah disibukkan oleh pekerjaan maupun tugas di waktu-waktu sebelumnya.
Nah, pertengahan bulan Februari yang lalu gue sama 7 temen kampus nyempetin (sok sibuk banget yak..) buat liburan ke Jepara. Kebetulan ada temen yang punya saudara di sana, jadinya gak perlu repot-repot lagi buat nyari penginapan.
Berangkat dari Stasiun Pasar Senen hari Minggu, 17 Februari 2013 pukul 22.00 WIB. Naik kereta api kelas Ekonomi Tawang Jaya, yang non AC yah bukan yang AC hehehe. Tapi, meskipun kelas ekonomi dan non AC kereta Tawang Jaya ini gak kalah sama kereta bisnis loh. Interiornya udah rapih dan bersih, kursi penumpangnya udah empuk, kipas anginnya nyala semua, toiletnya bersih dan wangi (kata temen yang nyobain buang air di kereta), semua penumpang duduk sesuai nomor kursi. Yang lebih keren lagi adalah ada jasa penyewaan bantal dan pemesanan makan malam dari pihak kereta loh !!! Jadi udah kayak naik kereta kelas bisnis aja jadinya.
Meskipun udah sangat banyak perubahan dari kereta ekonomi, tetep aja masih ada kekurangannya. Masih adanya pedagang yang masuk ke gerbong ketika kereta sedang berhenti di Stasiun, yang mana cukup mengganggu dan bikin sumpek juga. Tapi secara keseluruhan sih naik kereta api kelas ekonomi udah cukup nyaman lah sekarang.
Oke, balik lagi ke tema cerita yang sebenarnya, Liburaaaaaaan !!!!!!!!! hehehe. Setelah semalaman duduk di kereta dan gak bisa tidur nyenyak, akhirnya Senin, 18 Februari 2013 pukul 06.40 WIB sampailah kita berdelapan di Stasiun Pontjol, Semarang denga selamat + muka pucat karena kurang tidur hahaha..
Hal pertama yang kita lakukan adalah meluruskan badan yang rasanya udah remek karena hampir 9 jam duduk di kereta. Setelah mondar mandir dan luntang lantung di Stasiun Pontjol, akhirnya pukul 08.30 WIB datanglah mobil Travel yang ditunggu tunggu dari tadi *phiuffft.. dan meluncurlah kita semua ke Jepara, kota ukir tempat lahirnya tokoh emansipasi wanita, RA kartini.
Bersambung..

Jumat, 10 Februari 2012

shuffle qolby


barusan nonton wideshot metro tv, kebetulan ada bintang tamu dari komunitas shuffle dance, eh malah keinget sama video ini nih. Sebenernya udah lama juga nih video diambil, sempet gw upload di youtube sama wideshot (cuma gak di muat2 hehehe)..
ini video diambil tanggal 23 desmber 2011, mumpung kondisi sekitar sekret sepi, si qolby mau juga nge-suffle di depan sekret. Videonya gw edit dikit pake movie maker, trus gw mix pake lagu liberation dance nya iklan axis (tau dong lagunya wkwkw..). Dan jadilah video shuffle qolby wehehe..

Gambar duluuu..

ini waktu baruuuu banget belajar gambar sketsa. Masih culun ya? blom ada efek bayangannya, bagian rambutnya juga cuma diarsir aja dan gak dibikin alurnya.