Jumat, 10 Februari 2012

Gambar duluuu..

ini waktu baruuuu banget belajar gambar sketsa. Masih culun ya? blom ada efek bayangannya, bagian rambutnya juga cuma diarsir aja dan gak dibikin alurnya.

Gambar lagi kita..

Nah, ini juga salah satu gambar sketsa generasi pertama dari gw, masih gak jauh beda sama yang sebelumnya, cuman bedanya disini gw udah coba main sama yg namanya efek bayangan. yaa.. meskipun masih acak kadul sih, tapi namanya juga baru belajar kan :D

Kamis, 09 Februari 2012

kisah kasih di balik ID

berhubung hari ini hari kamis, eh bukan ! berhubung hari ini Hari Pers Nasional, jadi inget sama ini nih.. :p

butuh waktu lumayan lama buat dapetin ID ini ckckc.. (btw, rambut apaan tuh nyelip di dkt foto gw? mana keriting lagi..). Yaaaa.. meskipun sekedar ikut LPM di kampus, tapi tantangan dan kondisi kerjanya gak beda jauh lah sama pers profesional. sama2 nyari berita, sama2 nulis artikel, sama2 pusing karna narsum hehehe..
intinya, ikut LPM itu asik lah. gw bisa menyalurkan aspirasi gw disitu dan yang paling penting, untuk pertama kalinya dalam hidup gw, gambar gw dimuat dan dipublish ke muka umum hehehe.. (akhirnya..ada juga yg menghargai karya gw :p) walaupun cuma level kampus doang, tapi lumayan lah, itung2 buat nambah jam terbang gw di dunia gambar-menggambar :D 

Penutup. Sebagai makhluk hidup, manusia butuh asupan informasi baik yg ringan maupun yg penting. Karna dgn informasi lah manusia dapat mengenal dunia, dan dengan informasilah dunia berkembang mengikuti alur zaman.
Selamat Hari Pers Nasional untuk insan pers di seluruh Indonesia, semoga makin jaya :D


Perdana di 2012

Akhirnya gue nulis lagi di blog, setelah sekian lama bergelut dengan kesibukan hingga gak ada waktu buat buka blog (baca:males).
Udah lama gak nulis, jadi ngebleng+bingung kuadrat (gw gak tau cara bikin kuadrat/kubik/derajat/apalah itu) padahal dulu gampang aja gue nulis, sering cetak cetek hape sambil ngisi note di fb, bikin artikel buat media kampus (asli enak, seru, keren banget coy). Mungkin bener kata orang, bisa karna biasa.. gak bisa karna gak biasa.. biasa makanya bisa. Tapi kan, sesuatu yang dibiasakan butuh perjuangan juga cuy, butuh niat, dan tentunya sangat perlu belajar. Maka dari itu mari kita biasakan hal2 positif seperti menulis, karena menulis (menurut gue) sama dengan merekam sejarah *azeeek*

So, mari menulis :)

Senin, 24 Januari 2011

Opini pribadi dan tidak perlu dipermasalahkan

Jangan Pernah melihat suatu permasalahan dari satu sisi, perlu adanya kroscek dari sisi lain agar informasi yang didapat bisa berimbang, atau dalam bahasa jurnalisnya disebut “Cover Both Side”.
Terkadang, ketika mendengar keluh kesah seseorang pastinya kita akan mendapati peran protagonist dalam cerita tersebut diperankan oleh si pencerita, Sementara pemeran antagonisnya pastinya adalah lawan dari si pencerita. Sayangnya, cerita yang kita dengar belum tentu bersifat objektif dan berdasarkan fakta yang ada, dalam arti mungkin saja si pencerita sedang kesal atau marah terhadap perlakuan si “antagonis” sehingga cerita yang keluar terkesan memojokkan si “antagonis” tersebut.
Sebagai contoh, saya punya pengalaman pribadi yang konteksnya menurut saya sangat pas dengan tema yang saya angkat kali ini. Suatu ketika nilai UTS diumumkan di kelas, namun saya mendapati nilai saya sangat buruk dan yang lebih menyakitkan lagi bahwa teman saya yang mendapat jawaban dari saya justru mendapatkan nilai yang lebih baik dari saya. Berangkat dari kekecewaan itulah saya selalu berfikir bahwa dosen saya ini tidak objektif dalam memberikan nilai, serta mengkambing hitamkan persepsinya bahwa wanita selalu lebih baik dalam hal nilai dibandingkan para pria. Jadi sayapun selalu berlindung dibalik argument saya bahwa nilai yang saya dapatkan bukanlah nilai objektif, jawaban itulah yang selalu saya gunakan apabila ditanya teman. Akan tetapi, ketika saya cek dan saya tanyakan ke beberapa teman tentang hasil UTS tersebut, saya mendapatkan fakta baru yakni nilai saya buruk dikarenakan score pada bagian teori kecil, lantaran saya terlalu fokus pada soal hitungan yang pada akhirnya kolom teori saya abaikan. Alih-alih ingin mendapat nilai lebih, malah mendapatkan nilai kecil karena mengabaikan point teori pada soal.
Dari pengalaman saya ini bisa diketahui, bahwa ketika kenyataan berkata lain dengan harapan dan perkiraan kita sebelumnya, acapkali kita selalu memposisikan diri pada posisi yang benar, dari sini egoisme mulai memainkan perannya. Jadi jangan heran dalam cerita diatas saya selalu menyalahkan dosen saya yang saya anggap tidak objekif pada saat itu. Namun, perlu ditekankan bahwa itu terjadi karena kekecewaan saya pribadi terhadap nilai yang saya dapat dan karena tidak ingin menyalahkan diri sendiri lantas saya salahkan dosen saya, yang akhirnya seiring berjalannya waktu saya mendapati suatu fakta yang membuka pandangan saya bahwa selama ini saya bersikap salah dalam menyikapi persoalan nilai ini.
Pelajaran yang didapat? Ada beberapa point, yakni:
  • Jangan pernah membuat keputusan/ mengeluarkan pernyataan dikala sedang kecewa ataupun marah kerana publik, karena orang yang sedang marah bagai manusia tanpa kepala. Jadi sekecewa apapun kita, mesti dipikirkan secara jernih dahulu sehingga kita bisa melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang objektif, dan tidak men-judge orang lain terlebih dahulu lantaran bisa menimbulkan penilaian negative terhadap orang yang bersangkutan oleh halayak ramai. Tentunya kita tidak mau melihat orang lain begitu dibenci hanya karena kita merasa orang tersebut merugikan kita lalu dia pantas dipandang sebagai orang yang salah oleh publik bukan?
  • Jangan pernah menjadikan satu informasi yang di dapat hanya dari satu orang saja sebagai acuan, karena dikhawatirkan cerita yang kita terima bukanlah cerita yang objektif. Perlu adanya kroscek serta mencari informasi tambahan dari sudut pandang lain sehingga informasi yang kita terima bisa utuh dan berimbang.
  • Pahami dulu permasalahan yang terjadi, sehingga kita tidak ikut menyeret-nyeret persoalan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan permasalahan yang sebenarnya, yang pastinya akan membuat penyelidikan kita terhadap suatu masalah menjadi tidak fokus dan melebar.

Minggu, 28 November 2010

Mendung

Mendung, entah kenapa gue begitu suka dengan mendung. Suasananya, anginnya, serta baunya, hoooofffft....... seakan jiwa ini bisa bebas dan tentram di dalamnya. Terkadang gue menikmati mendung sambil mendengarkan lagu, lagu apa aja yang menurut gue bisa pas sama suasana mendung tersebut, rasanya enak banget deh kalo udah kayak gitu sambil tiduran pula.

Beberapa Gambar dari atas kampus











The Next Laskar Pelangi



















Ini dia the next laskar pelangi, kompak banget, sampe kencing pun berjamaah hehehe

Sabtu, 27 November 2010

Indonesia 6--0 Timor-Leste (November 21, 2010)

Kita menang lawan Timor Leste yang sering kita sebut sebagai tim lemah dengan skor 6-0, tapi taukah bahwa kemenangan besar yang kita banggakan itu tidak berarti apa2 bila dilihat dari prestasi negara asia tenggara lainnya yang selevel dengan Indonesia, seperti Malaysia pernah menggebuk Timor Leste dengan skor telak 11-0 pada SEA Games 2009 lalu di Laos. Sementara tim yang lebih tangguh lagi yakni Thailand mampu menaklukan timnas negara yang dulunya pernah menjadi salah satu provinis di Indonesia itu dengan skor 8-0 dan 9-0 (masing2 pada turneman yang berbeda). Bila dibandingkan dengan hasil yang kita capai, kita tidak lebih baik dari negara sekelas Kamboja, Filipina, bahkan Laos. Pada babak kualifikasi Piala AFF lalu, Kamboja mengalahkan Timor Leste dengan skor 4-2, Filipina lebih baik lagi dengan skor 5-o, sementara Laos mengangkangi tim yang diarsiteki Manuel Da Costa ini dengan skor 6-1. Bahkan Timor Leste turun dengan pemain intinya. Seharusnya ini menjadi renungan dan Motivasi kita sebagai pecinta sepak bola tanah air untuk memajukkan sepakbola Indonesia ke jenjang yang lebih baik, bukan dengan protes tetapi dengan aksi nyata. Kalo terus mendesak Nurdin mundur tidak akan ada habisnya, percuma, sampai akhir periodenya pun dia akan tetap menjabat, justru kita yang akan semakin dirugikan. Maju terus sepakbola tanah air !!!

Macet. Dari sifat konsumerisasi hingga pelanggaran HAM

Macet, labih parah jika hujan. Saya sudah sangat bosan dengan yang namanya macet, entah kenapa saya tidak merasakan kalau kebanyakan orang di Jabodetabek itu jengah dengan macet?Mengapa saya beranggapan seperti itu?Jelas sekali karena mereka lebih suka memiliki serta menggunakan kendaraan pribadi yang kebanyakan berjenis sepeda motor ataupun mobil. Dari kebiasaan seperti itu tidak dipungkiri kemacetan akan semakin menjadi, lebih-lebih bila sudah memasuki jam pulang kantor.
Pemikiran lain saya terhadap macet yakni, pelanggaran HAM yang makin hari akan semakin naik levelnya, dari pelanggaran HAM ringan bahkan bisa menjadi pelanggaran HAM berat. Karena macet telah membunuh hak kita sebagai konsumen jalan raya untuk cepat sampai ke tempat tujuan, apabila ditelusuri lebih lanjut sumber masalah tidak hanya menjadi kambing hitam, bahkan bila saya simpulkan macet itu hanyalah sebab dari sifat konsumerisasi masyarakat terhadap kendaraan pribadi. jadi secara tidak langsung tuduhan akan bergeser kepada diri kita masing-masing sebagai pengguna setia kendaraan pribadi.
Tindak lanjut dari macet itu sendiri tidak jauh-jauh dari menanamkan sikap menghormati dan menghargai tata krama berlalu lintas. Sejauh ini menurut pandangan saya hal semacam itu sudah tidak berlaku kepada pengguna jalan raya. yang menjadi acuan mereka dalam berlalu lintas yang baik adalah ego, selain itu semua diharamkan.